Menurut WHO, obesitas sudah merupakan masalah
global sekaligus menjadi kendala kesehatan yang harus segera diatasi. Di
Indonesia, perubahan gaya hidup terutama
dalam perubahan pola makan masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi
kalori, lemak dan kolesterol, sehingga berdampak meningkatkan risiko timbulnya
penyakit lemak berlebih atau kegemukan atau lebih dikenal dengan nama “obesitas”.
Seiring dengan meningkatnya taraf kesejahteraan
masyarakat, jumlah penderita kegemukan (overweight) dan obesitas cenderung
meningkat. Di Indonesia,
masalah kesehatan yang diakibatkan oleh gizi lebih ini mulai muncul pada awal
tahun 1990-an. Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial ekonomi
tertentu, terutama di perkotaan, menyebabkan adanya perubahan pola makan dan
pola aktifitas yang mendukung terjadinya peningkatan jumlah penderita kegemukan
dan obesitas.
Kegemukan dan obesitas
merupakan dua hal yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama menunjukkan adanya
penumpukan lemak yang berlebihan di dalam tubuh, yang ditandai dengan
peningkatan nilai indeks massa tubuh diatas normal. Penderita obesitas
mengalami penumpukan lemak yang lebih banyak dibandingkan dengan penderita
kegemukan untuk jangka waktu yang lama, dan berisiko lebih tinggi untuk terkena
beberapa penyakit degeneratif seperti penyakit payah jantung kongestif (CHF),
hipertensi, diabetes melitus tipe 2 dan sebagainya. Namun secara umum obesitas dapat
didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan
penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Untuk menentukan obesitas
diperlukan kriteria yang berdasarkan pengukuran antropometri dan atau
pemeriksaan laboratorik, pada umumnya digunakan:
- Pengukuran berat badan (BB) yang dibandingkan dengan standar dan disebut obesitas bila BB > 120% BB standar.
- Pengukuran berat badan dibandingkan tinggi badan (BB/TB). Dikatakan obesitas bila BB/TB > persentile ke 95 atau > 120% 6 atau Z-score ≥ + 2 SD.
- Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur skinfold thickness (tebal lipatan kulit/TLK). Sebagai indikator obesitas bila TLK Triceps > persentil ke 85.6
- Pengukuran lemak secara laboratorik, misalnya densitometri, hidrometri dsb. yang tidak digunakan pada anak karena sulit dan tidak praktis. DXA adalah metode yang paling akurat, tetapi tidak praktis untuk dilapangan.
- Indeks Massa Tubuh (IMT), > persentil ke 95 sebagai indikator obesitas.
Proses Terjadinya Obesitas
Kegemukan dan obesitas
terjadi apabila total asupan kalori yang terkandung dalam makanan melebihi jumlah
total kalori yang dibakar dalam proses metabolisme. Beberapa penelitian
terakhir menunjukkan bahwa penyebab kegemukan dan obesitas bersifat
multi-faktor, antara lain adanya keterlibatan faktor genetik, ras, perubahan
pola makan dan pola aktifitas serta emosi. Keterlibatan faktor genetik relatif
sulit dibuktikan. Diduga, ada kelompok masyarakat tertentu yang proses
metabolisme tubuhnya relatif lebih lambat dibandingkan yang lainnya. Kondisi
ini menyebabkan seseorang memiliki peluang lebih besar untuk menderita
kegemukan dan obesitas. Pola makanan masyarakat di lingkungan perkotaan yang
tinggi kalori dan lemak serta rendah serat, telah memicu peningkatan jumlah
penderita kegemukan dan obesitas. Masyarakat di perkotaan yang cenderung sibuk,
biasanya lebih menyukai mengkonsumsi makanan cepat saji, dengan alasan lebih
praktis. Meskipun mereka mengetahui bahwa nilai kalori yang terkandung dalam
makanan cepat saji sangat tinggi, dan di dalam tubuh kelebihan kalori ini akan
dirubah dan disimpan menjadi lemak tubuh.
Sebenarnya menu makanan
tradisional masyarakat Indonesia yang terdiri dari kandungan energi berasal
sekitar 9,6% berasal dari protein, 20,6% dari lemak dan selebihnya 68,6%
berasal dari karbohidrat (Data Biro Pusat Statistik tahun 1990), telah sesuai
dengan anjuran pola makan sehat menurut badan kesehatan se-dunia, WHO. Selain
itu, berkurangnya aktifitas fisik juga berkontribusi terhadap peningkatan
jumlah penderita kegemukan dan obesitas. Dalam kehidupan masyarakat modern
-dengan dukungan teknologi dan sarana yang mutakhir, menyebabkan menurunnya
aktifitas fisik. Penggunan elevator telah menggantikan fungsi tangga di
berbagai instansi, perkantoran dan beberapa sarana umum. Adanya remote kontrol
juga menyebabkan banyak orang tidak perlu beranjak dari tempatnya menonton
televisi, jika ingin mengganti saluran.. Penggunaan alat transportasi bermotor
juga telah menggeser peran sepeda. Akibatnya, sedikit sekali kalori yang
dibakar akibat aktifitas fisik yang minim ini. Faktor emosi juga turut
berkontribusi menyebabkan kegemukan dan obesitas pada diri seseorang. Saat
seseorang merasa cemas, sedih, kecewa atau tertekan, biasanya akan cenderug
mengkonsumsi makanan lebih banyak untuk mengatasi perasaan-perasaan yang tidak
menyenangkan tadi.
Dalam hal ini, pengaturan
keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis,
yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran
energi dan regulasi sekresi hormon yang terlibat dalam pengaturan penyimpanan
energi, melalui sinyal-sinyal efferent yang berpusat di hipotalamus setelah
mendapatkan sinyal afferent dari perifer terutama dari jaringan adipose tetapi juga dari usus dan
jaringan otot. Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan asupan makanan, menurunkan pengeluaran
energi) dan katabolik (anoreksia,
meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal
pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek (situasional) yang mempengaruhi porsi
makan dan waktu makan serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan
peptida gastrointestinal, yaitu kolesistokinin
(CCK) yang mempunyai peranan paling penting dalam menurunkan porsi makan
dibanding glukagon, bombesin dan somatostatin. Sinyal panjang yang
diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan
dan keseimbangan energi. Didalam system
ini leptin memegang peran utama sebagai pengendali berat badan.
Penyebab obesitas belum diketahui secara
pasti. Namun beberapa kemungkinan yang dapat menjadi pencetus terjadinya
obesitas antara lain :
Faktor Genetik
Parental fatness merupakan
faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua orang tua obesitas, 80%
anaknya menjadi obesitas; bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas
menjadi 40% dan bila kedua orang tua
tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.5 Hipotesis Barker menyatakan bahwa
perubahan lingkungan nutrisi intrauterin menyebabkan gangguan perkembangan
organ-organ tubuh terutama kerentanan terhadap pemrograman janin yang
dikemudian hari bersama-sama dengan pengaruh diet dan stress lingkungan merupakan
predisposisi timbulnya berbagai penyakit dikemudian hari. Mekanisme kerentanan
genetik terhadap obesitas melalui efek pada resting metabolic rate,
thermogenesis non exercise, kecepatan oksidasi lipid dan kontrol nafsu makan
yang jelek. Dengan demikian kerentanan terhadap obesitas ditentukan secara
genetik sedang lingkungan menentukan ekspresi fenotipe.
Faktor lingkungan
1. Aktifitas fisik.
Aktifitas fisik merupakan
komponen utama dari energy expenditure, yaitu sekitar 20-50% dari total energy
expenditure. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara aktifitas
fisik yang rendah dengan kejadian obesitas. Individu dengan aktivitas fisik
yang rendah mempunyai risiko peningkatan berat badan sebesar ≥ 5 kg.10
Penelitian di Jepang menunjukkan risiko obesitas yang rendah (OR:0,48) pada
kelompok yang mempunyai kebiasaan olah raga, sedang penelitian di Amerika
menunjukkan penurunan berat badan dengan jogging (OR: 0,57), aerobik (OR:
0,59), tetapi untuk olah raga tim dan tenis tidak menunjukkan penurunan berat
badan yang signifikan. Penelitian terhadap anak Amerika dengan tingkat sosial
ekonomi yang sama menunjukkan bahwa mereka yang nonton TV ≥ 5 jam perhari
mempunyai risiko obesitas sebesar 5,3 kali lebih besar dibanding mereka yang
nonton TV ≤ 2 jam setiap harinya.
2. Faktor nutrisional.
Peranan
faktor nutrisi dimulai sejak dalam kandungan dimana jumlah lemak tubuh dan
pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu. Kenaikan berat badan dan lemak
anak dipengaruhi oleh : waktu pertama kali mendapat makanan padat, asupan
tinggi kalori dari karbohidrat dan lemak serta kebiasaan mengkonsumsi makanan
yang mengandung energi tinggi. Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan
bahwa kelompok dengan asupan tinggi lemak mempunyai risiko peningkatan berat
badan lebih besar dibanding kelompok dengan asupan rendah lemak dengan OR.
Penelitian lain
menunjukkan peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas
sebesar 1,46 kali. Keadaan ini
disebabkan karena makanan berlemak mempunyai energy density lebih besar dan
lebih tidak mengenyangkan serta mempunyai efek termogenesis yang lebih kecil
dibandingkan makanan yang banyak mengandung protein dan karbohidrat. Makanan
berlemak juga mempunyai rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera makan
yang akhirnya terjadi konsumsi yang berlebihan.10 Selain itu kapasitas
penyimpanan makronutrien juga menentukan keseimbangan energi. Protein mempunyai
kapasitas penyimpanan sebagai protein tubuh dalam jumlah terbatas dan
metabolisme asam amino di regulasi dengan ketat, sehingga bila intake protein
berlebihan dapat dipastikan akan di oksidasi; sedang karbohidrat mempunyai
kapasitas penyimpanan dalam bentuk glikogen hanya dalam jumlah kecil. Asupan
dan oksidasi karbohidrat di regulasi sangat ketat dan cepat, sehingga perubahan
oksidasi karbohidrat mengakibatkan perubahan asupan karbohidrat. Bila cadangan
lemak tubuh rendah dan asupan karbohidrat berlebihan, maka kelebihan energi
dari karbohidrat sekitar 60-80% disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Lemak
mempunyai kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak
tidak diiringi peningkatan oksidasi lemak sehingga sekitar 96% lemak akan disimpan
dalam jaringan lemak.
3. Faktor sosial ekonomi.
Perubahan pengetahuan,
sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan pendapatan
mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.5 Suatu data
menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup
yang menjurus pada penurunan aktifitas fisik, seperti: ke sekolah dengan naik
kendaraan dan kurangnya aktifitas bermain dengan teman serta lingkungan rumah
yang tidak memungkinkan anak-anak bermain diluar rumah, sehingga anak lebih
senang bermain komputer / games, nonton TV atau video dibanding melakukan
aktifitas fisik. Selain itu juga ketersediaan dan harga dari junk food yang
mudah terjangkau akan berisiko menimbulkan obesitas.
Dampak dari Obesitas
Masalah
obesitas, jika tidak segera ditangani akan dapat menimbulkan berbagai penyakit
– penyakit tertentu yang dapat mengganggu seluruh sistem dalam tubuh antara
lain :
1. Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler
Faktor Risiko ini meliputi
peningkatan: kadar insulin, trigliserida, LDL-kolesterol dan tekanan darah
sistolik serta penurunan kadar HDL- kolesterol. Risiko penyakit Kardiovaskuler
di usia dewasa pada anak obesitas sebesar 1,7 - 2,6. IMT mempunyai hubungan
yang kuat (r = 0,5) dengan kadar insulin. Anak dengan IMT > persentile ke
99, 40% diantaranya mempunyai kadar insulin tinggi, 15% mempunyai kadar HDL-kolesterol yang
rendah dan 33% dengan kadar trigliserida tinggi.15 Anak obesitas cenderung mengalami peningkatan
tekanan darah dan denyut jantung, sekitar 20-30% menderita hipertensi.
2. Diabetes Mellitus tipe-2
Diabetes mellitus tipe-2
jarang ditemukan pada anak obesitas.5,15 Prevalensi penurunan glukosa toleran
test pada anak obesitas adalah 25% sedang diabetes mellitus tipe-2 hanya 4%.
Hampir semua anak obesitas dengan diabetes mellitus tipe-2 mempunyai IMT > +
3SD atau > persentile ke 99.
3. Obstruktif sleep apnea
Sering dijumpai pada anak
obesitas dengan kejadian 1/100 dengan gejala mengorok.5 Penyebabnya adalah
penebalan jaringan lemak didaerah dinding dada dan perut yang mengganggu
pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan
perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan.
Pada saat tidur terjadi penurunan tonus otot dinding dada yang disertai
penurunan saturasi oksigen dan peningkatan kadar CO2, serta penurunan tonus
otot yang mengatur pergerakan lidah yang menyebabkan lidah jatuh kearah dinding
belakang faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafas intermiten dan
menyebabkan tidur gelisah, sehingga keesokan harinya anak cenderung mengantuk
dan hipoventilasi. Gejala ini berkurang seiring dengan penurunan berat
badan.
4. Gangguan ortopedik
Pada anak obesitas
cenderung berisiko mengalami gangguan ortopedik yang disebabkan kelebihan berat
badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris yang menimbulkan gejala
nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan panggul.
5. Pseudotumor serebri
Pseudotumor
serebri akibat peningkatan ringan tekanan intrakranial pada obesitas disebabkan
oleh gangguan jantung dan paru-2 yang menyebabkan peningkatan kadar CO2 dan
memberikan gejala sakit kepala, papil edema, diplopia, kehilangan lapangan
pandang perifer dan iritabilitas.
Mengatasi Masalah Obesitas
Mengingat penyebab
obesitas bersifat multifaktor, maka penatalaksanaan obesitas seharusnya
dilaksanakan secara multidisiplin dengan mengikut sertakan keluarga dalam
proses terapi obesitas. Prinsip dari tatalaksana obesitas adalah mengurangi
asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan diet,
peningkatan aktifitas fisik, dan mengubah / modifikasi pola hidup :
1. Menetapkan target penurunan berat badan
Untuk
penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan: umur anak, yaitu usia 2 - 7 tahun
dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit
penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa komplikasi dengan usia dibawah 7
tahun, dianjurkan cukup dengan mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas
dengan komplikasi pada anak usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas
7 tahun dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Target penurunan berat badan
sebesar 2,5 - 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 - 2 kg per bulan.
2. Pengaturan diet
Prinsip pengaturan diet
pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan RDA, hal ini karena anak masih mengalami pertumbuhan dan
perkembangan.5 Intervensi diet harus disesuaikan dengan usia anak, derajat
obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta. Pada obesitas sedang dan tanpa
penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah kalori dengan pengurangan
asupan kalori sebesar 30%. Sedang pada obesitas berat (IMT > 97 persentile)
dan yang disertai penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat rendah
(very low calorie diet ). Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang :
- Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan pertumbuhan normal.
- Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan lemak jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total serta kolesterol < 300 mg per hari.
- Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun dengan penghitungan dosis menggunakan rumus: (umur dalam tahun + 5) gram per hari.
3. Pengaturan aktifitas fisik
Peningkatan aktifitas
fisik mempunyai pengaruh terhadap laju
metabolisme. Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat
perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktifitas fisik untuk anak
usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan ketrampilan otot, seperti
bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk melakukan aktifitas
fisik selama 20-30 menit per hari.
4. Mengubah pola hidup/perilaku
Untuk perubahan perilaku
ini diperlukan peran serta orang tua sebagai komponen intervensi, dengan cara:
- Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktifitas fisik serta mencatat perkembangannya.
- Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat menyingkirkan rangsangan disekitar anak yang dapat memicu keinginan untuk makan.
- Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan.
- Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah.
5. Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru.
Orang
tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga, guru dan teman
ikut berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku makan dan aktifitas
yang mendukung program diet.
6. Terapi intensif
Terapi
intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan yang disertai
komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, terdiri dari
diet berkalori sangat rendah (very low calorie diet), farmakoterapi dan terapi
bedah.
- Indikasi terapi diet dengan kalori sangat rendah bila berat badan > 140% BB Ideal atau IMT > 97 persentile, dengan asupan kalori hanya 600-800 kkal per hari dan protein hewani 1,5 - 2,5 gram/kg BB Ideal, dengan suplementasi vitamin dan mineral serta minum > 1,5 L per hari. Terapi ini hanya diberikan selama 12 hari dengan pengawasan dokter.
- Farmakoterapi dikelompokkan menjadi 3, yaitu: mempengaruhi asupan energi dengan menekan nafsu makan, contohnya sibutramin; mempengaruhi penyimpanan energi dengan menghambat absorbsi zat-zat gizi contohnya orlistat, leptin, octreotide dan metformin; meningkatkan penggunaan energi. Farmakoterapi belum direkomendasikan untuk terapi obesitas pada anak, karena efek jangka panjang yang masih belum jelas.
- Terapi bedah di indikasikan bila berat badan > 200% BB Ideal. Prinsip terapi ini adalah untuk mengurangi asupan makanan atau memperlambat pengosongan lambung dengan cara gastric banding, dan mengurangi absorbsi makanan dengan cara membuat gastric bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus. Sampai saat ini belum banyak penelitian tentang manfaat dan bahaya terapi ini pada anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar