Sabtu, 21 Juli 2012

Demensia

Proses penuaan otak yang merupakan bagian dari proses degenerasi menimbulkan berbagai gangguan neuropsikologis. Salah satu masalah kesehatan yang paling besar dalam kelompok lanjut usia adalah demensia.usia di atas 65 tahun mempunyai resiko tinggi untuk mengalami demensia dan hal ini tidak bergantung pada bangsa, suku, kebudayaan, dan status ekonomi.

Demensia merupakan kumpulan gejala klinik yang di sebabkan oleh berbagai latar belakang penyakit, ditandai oleh hilangnya memori jangka pendek dan gangguan global fungsi mental termasuk fungsi bahasa, mundurnya kemampuan berpikir abstrak, kesulitan merawat diri sendiri, perubahan prilaku emosi labil, dan hilangnya pengenalan waktu serta tempat tanpa adanya gangguan tingkat kesadaran atau situasi stres, sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan efektivitas harian dan sosial yang disebabkan oleh berbagai keadaan yang sebagian masih reversibel.

Definisi lain mengenai demensia adalah hilangnya fungsi kognisi secara multidimensional dan terus menerus dan disebabkan oleh kerusakan organik sistem saraf pusat, tidak disertai oleh penurunan kesadaran secara akut seperti halnya terjadi pada delirium.

Salah satu tipe demensia, yaitu demensia Alzheimer atau pikun. Frekuensi demensia ini menempati urutan tertinggi dibandingkan demensia jenis lainnya, yaitu 50%-55%, walaupun beberapa penelitian di Asia (Singapura, Jepang, dan India) menunjukan frekuensi demensia vaskuler lebih besar dibandingkan demensia Alzheimer.

Kemungkinan dari penyakit demensia ini dapat menyerang orang-orang dengan persentase umur yaitu 1% berumur 60-65 tahun, 6% berumur 70-75 tahun, dan 45% berumur 95 tahun.
Etiologi Demensia
Adanya defisit kognitif multipleks yang secara langsung, disebabkan oleh berbagai faktor etiologi (kombinasi penyakit stroke atau alzheimer). Demensia ditandai dengan adanya gangguan kognisi, fungsional, dan perilaku, sehingga menimbulkan gangguan pada pekerjaan, aktivitas harian, dan sosial. Demensia dapat progresif, statik, atau dapat pula mengalami remisi.

Klasifikasi Demensia 
Demensia dibedakan menjadi, demensia reversible dan ireversibel 

Penyebab demensia reversibel :
  • Drugs : Antidepresi, antiansietas, sedatif, antiaritmia, antihipertensi, antikonvulsan, obat-obat jantung termasuk digitalis, obat-obat antikolinergik.
  • Emosi/depresi : Depresi, shizofrenia, mania, psikosis
  • Metabolik/endokrin : Penyakit tiroid, hipoglikemi, hipernatremi dan hiponatremi, hiperkalsemia, gagal ginjal, gagal hati, penyakit Cushing, penyakit wilson.
  • Trauma : Trauma kranioserebal, hematon subdural akut dan kronis.
  • Tumor : Glioma, meningioma, tumor metastatis.
  • Infeksi : Meningitis dan ensefalitis bakterialis, meningitis dan ensefalitis Akibat jamur, meningitis akibat kriptokokus, meningitis dan Ensefalitis viral, abses otak, neurosifilis, AIDS.
  • Autoimun : Lupus eritematosus diseminata, multiple sklerosis. Dan di samping itu ada juga arterioseklerosis dan alkohol.
Untuk dementia yang irreversibel penyebabnya adalah
  • Penyakit degeneratif : Penyakit Alzhaimer, demensia Frontotemporal, penyakit Huntington, penyakit Parkinson, penyakit Lewy bodies, atrofi olivopontoserebelar, amiotropik lateral sklerosis/ demensia parkinsonism kompleks.
  • Penyakit vaskular : Infrak multipel, emboli serebral, arteritis, anoksia sekunder akibat henti jantung, gagal jantung atau keracunan karbon monoksida.
  • Trauma : Trauma kranioserebral berat
  • Infeksi : Sub akut spongiform ensefalopati (creutzfeldt-jacob disease), post ensefalitis, Leukoensefalopati multifokal progresif.
Gambaran Klinik Demensia
Gambaran utama demensia adalah munculnya defisit kognitif multipleks, termasuk gangguan memori, setidak-tidaknya satu di antara gangguan kognitif berikut ini: afasia, apraksia, agnosia, atau dalam hal fungsi eksekutif. Rincian gambaran klinik dementia adalah sebagai berikut :
  • Gangguan memori, dalam bentuk ketidakmampuan untuk belajar tentang hal-hal baru.
  • Afasia, dapat dalam bentuk kesulitan dalam menyebut nama orang atau benda.
  • Apraksia, ketidakmampuan untuk melakukan gerakan meskipun kemampuan motorik, fungsi sensorik, dan pengertian yang diperlukan tetap baik,
  • Agnosia, ketidakmampuan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda meskipun fungsi sensoriknya utuh.
  • Tanda klinik dan kondisi medik secara umum, bergantung pada riwayat penyakit, letak dan tahap perjalanan proses patologik yang mendasarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar